JEJAK LANGIT

Rabbanaa,, maa khalaqta haadzaa baatila...

my page

Tampilkan postingan dengan label kisahkisah^^. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisahkisah^^. Tampilkan semua postingan

getar hati para pemimpi

Ia pemuda biasa. Lahir dari keluarga miskin lagi pengungsi. Ia bermimpi untuk melawan kedzaliman yang mencakar koyak wajah bumi para Nabi, tanah kelahirannya. Suatu hari masih dalam sengatan mimpinya, ia bersama teman-temannya membuat sebuah acara kemah ketangkasan di pantai Gaza. Dan, dari sanalah kisah menakjubkan itu dimulai.

Di akhir acara mereka berlomba, mereka saling adu ketahanan. Siapa bias melakukan “head-stand”, berdiri dengan kepala dalam jangka waktu terlama, dialah sang pemenang.

Tiap menit, satu demi satu peserta menyerah. Lalu tinggallah di sendiri, pemuda itu. Di masih terus bertumpu di atas kepalanya bahkan sampai beberapa jam kemudian! Gila!! Teman-temannya berseru-seru. Tapi ia tak beranjak. Tetap tersenyum. Hingga pada satu titik waktu, ia tak tahan lagi. Serasa ada yang meledak dalam kepalanya. Lalu ia jatuh. Sayangnya saat mencoba bangkit, ia limbung. Ia jatuh lagi. Dan kakinya pun sulit digerakkan, bahkan serasa tak mampu menahan berat tubuhnya. Hari itu, usianya baru 16 tahun. Dan perkenalkan, nama pemuda itu adalah…. Ahmad Yassin.

Ia lumpuh di usia remajanya. Tapi mimpinya tak ikut lumpuh. Mimpi itu tetap menyala. Bahkan kian berkobar. Dengan kelumpuhannya ia memilih untuk menjadi guru agama Islam di sebuah sekolah dasar. Dan karena mimpi-mimpinya yang menjulang, murid-muridnya juga ikut tersengat. Konon, tiap kali ia mengajarkan sesuatu, murid-muridnya bak kerasukan. Mereka begitu bersemangat mengamalkan apa yang di katakannya.
Suatu hari disinggungnya tentang sholat malam. Maka paginya para wali murid memprotes pihak sekolah karena anak-anak mereka jadi bergadang semalaman menantikan sepertiga malam terakhir. Suatu hari, disinggungnya pula tentang puasa sunnah. Maka para orangtua pun kelabakan karena hari-hari berikutnya anak-anak mereka yang masih kecil memboikot sarapan pagi dan makan siang untuk berpuasa. Padahal mussim panas begitu dahsyat dengan siang panjang bermandikan matahari.

Duhai kekuatan apakah itu, yang ada pada guru lumpuh itu??

Itulah kekuatan jiwa. Begitu kokohnya ia hingga jasad yang rapuh itu bagaikan matahari, bersinar meledakkan. Bertahun-tahun dia di penjara Israel, sampai manusia pun bertanya apa bahayanya orang tua yang lumpuh penyakitan ini?? Dokter-dokter di penjara Israel hampir-hampir menganggapnya laboratorium hidup, karena hari tak berganti tanpa bertambahnya jenis penyakit di tubuh sang singa yang berkursi roda.

Ketika keluar dari penjara,  sampai pada waktu ia udzur, ia terus berjuang merealisasikan mimpinya. Kondisi yang tubuhnya yang semakin parah hingga lumpuh dari leher hingga ujung kaki dan setiap hari harus menggunakan kursi roda, tidak menghalangi. ia tetap meluaskan dakwahnya, memimpin dan membina umat, rakyat Palestina khususnya di Gaza.

Inilah lelaki yang sangat amat ditakuti Israel. Bukan yang seperti Rambo. Bukan yang badannya sekekar Ade Rai. Hanya seorang lelaki lumpuh berkursi roda yang bicara pun terbata-bata. Suaranya pun juga kecil hamper kehabisan bunyi. Tapi kekuatan jiwanya itulah, jiwa yang dipenuhi mimpi, keyakinan pada janji Illahi, membuatnya begitu perkasa, begitu berwibawa di hadapan jutaan pasukan bersenjata lengkap berkendara lapis baja.

Sekali lagi perkenalkan, namanya Ahmad Yassin…

nama lengkapnya Syekh Ahmad Ismail Yasin, lahir tahun 1938 di desa Al-Jura, sebelah selatan kota Gaza.
Beliau syahid pada saat sedang puasa sunah Senin-Kamis, hari Senin, 1 Shafar 1425 H/ 22 Maret 2004 M karena kendaraanya di hantam oleh 3 rudal penjajah Zonis Israel, setelah melaksanakan sholat subuh berjama’ah di masjid Al-Mujama’ Al-Islami, Gaza.

Rudal kawan,, 3 buah rudal.. semenakutkan itukah seorang Ahmad yassin bagi israel? Hingga untuk membunuh seorang tua yang tak berdaya pun mereka harus menggunakan ruddal-rudal..

Allahu Akbar!!!
Selamat jalan mujahid, doa kami mengiringi.. dengan jiwa yang tentram suci, kepada Allah kembali.. :)


mutiara dari sang singa

sebelum baca potingan ini, harap baca dulu "getar hati para pemimpi" .. biar tau dulu kisahnya ^^

dan berikut ini adalah salah satu petikan khutbah beliau:


"Sesungguhnya aku, seorang tua yang lemah, tidak mampu memegang pena dan menyandang senjata dengan tanganku yang sudah mati (lumpuh). Aku bukan seorang penceramah yang lantang yang mampu menggemparkan semua tempat dengan suaraku (yang perlahan ini) Aku tidak mampu untuk kemana-mana tempat untuk memenuhi hajatku kecuali jika mereka menggerakkan (kursi roda)-ku Aku, yang sudah beruban putih dan berada di penghujung usia. Aku, yang diserang pelbagai penyakit dan ditimpa bermacam-macam penderitaan 

Tapi adakah segala macam penyakit dan kecacatan yang tertimpa ke atasku turut menimpa bangsa Arab hingga menjadikan mereka begitu lemah. Adakah kalian semua begitu, wahai Arab, kalian diam membisu dan lemah, ataukah kalian semua telah mati binasa Adakah hati kalian tidak bergelora melihat kekejaman terhadap kami sehingga tiada satu kaumpun bangkit menyatakan kemarahan karena Allah.

Tiada satu kaumpun (di kalangan kalian) yang bangkit menentang musuh-musuh Allah yang telah mengobarkan perang antarbangsa ke atas kami dan menukarkan kami daripada golongan mulia yang dianiaya dan dizhalimi kepada pembunuh dan pembantai yang ganas. (Tidak adakah yang mau bangkit menentang musuh-musuh) yang telah berjanji setia untuk menghancurkan dan menghukum kami.

Tidak malukah ummat ini terhadap dirinya yang dihina sedangkan padanya ada kemuliaan. Tidak malukah negara-negara ummat ini membiarkan penjajah Zionis dan sekutu antarabangsanya tanpa memandang kami dengan pandangan yang mampu mengesat air mata kami dan meringankan beban kami 

Adakah kekuatan-kekuatan ummat ini, pasukan tentaranya, badan-badannya, dan tokoh-tokohnya tidak mau marah karena Allah dengan kemarahan sebenarnya lalu mereka keluar beramai-ramai sambil menyerukan, “Ya Allah, perkuatkanlah saudara-saudara kami yang sedang dipatah-patahkan, kasihanilah saudara-saudara kami yang lemah ditindas dan bantulah hamba-hambamu yang beriman!” 

Adakah kalian tidak memiliki kekuatan berdoa untuk kami? 

Seketika nanti kalian akan mendengar mengenai peperangan besar ke atas kami dan ketika itu kami akan terus berdiri dengan tertulis di dahi kami bahwa kami akan mati berdiri dan berdepan dengan musuh, bukan mati membelakang (dalam keadaan melarikan lari) dan akan mati bersama-sama kami, anak-anak kami, wanita-wanita, orang-orang tua, dan pemuda-pemuda.

Kami jadikan di kalangan mereka sebagai kayu bakar buat ummat yang diam dalam kebodohan! Janganlah kalian menanti hingga kami menyerah atau mengangkat bendera putih kerana kami telah belajar bahwa kami tetap akan mati walaupun kami berbuat demikian (menyerah). Biarkan kami mati dalam kemuliaan sebagai mujahid.

Jika kalian mau, marilah bersama-sama kami sedaya mungkin. Tugas membela kami terpikul di bahu kalian. Kalian juga sepatutnya menyaksikan kematian kami dan menghulurkan simpati. Sesungguhnya Allah akan menghukum siapa saja yang lalai menunaikan kewajiban yang diamanahkan.

Dan kami berharap kepada kalian supaya jangan menjadi musuh yang menambah penderitaan kami. Demi Allah, jangan menjadi musuh kepada kami wahai pemimpin-pemimpin ummat ini, wahai bangsa ummat ini." 

(ahmad yassin)

************





Kala fajar hendak berpendar, 
mentari pun belum bersinar
Sebongkah dendam membara,
memburu sang hamba nan bersahaja

Raganya tak seperti kita,
namun semangatnya menembus semesta
Dari kursi roda mengguncang dunia,
untuk kemerdekaan palestina

Darah membuncah menyirami bumi
Tubuhnya terhempas tercabik
Namun dia hidup di sisi illahi
Dalam nikmat abadi

Selamat jalan hai mujahid, doa kami mengiringi
Dengan jiwa nan tentram suci, kepada Allah kembali


(shoutul harakah)



Khabbab bin Arts

Khabbab..ia adalah seorang budak sekaligus pandai besi pembuat senjata yang ulung.. setelah menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah, ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa.. Tanpa sadar, bibirnya lembut terus mengulang-ulang syahadat sepenuh cinta…

Ia tak meyadari, bahwa ia sedang melewati perkumpulan kafir Quraisy..  tak ayal lagi, kaum Quraisy itu sangat marah mendengar khabbab melantunkan kalimat yang sangat mereka benci… tanpa dikomando, mereka beramai-ramai mengeroyoknya, menghajarnya tanpa ampun, melampiaskan semua kebencian mereka, sampai khabbab pingsan….

Ketika tersadar, khabbab sangat bingung mendapati tubuhnya bengkak-bengkak dan tulang-tulangnya terasa sakit, pakaiannya koyak, berlumur darah yang mengalir dari berpuluh luka di badannya.. Berkali-kali ia mencoba bangkit, namun ia selalu jatuh tak berdaya. Beberapa lama, akhirnya ia berhasil berdiri dan berjalan membersihkan dirinya. Hatinya sangat lega, sungguh dia puas telah men’syiar’kan keimannya..

Baru saja khabbab selesai mengganti pakaian, ummu anmar (majikannya) menghadang langkahnya. Ummu anmar mempertanyakan tentang kebenaran bahwa khabbab telah menjadi pengikut Muhammad. Khabbab sangat tegas mengiyakan semua itu. Ummu anmar marah besar, lantas memerintahkan saudara-saudara dan budak-budaknya yang lain untuk menghajar khabbab. Lagi-lagi, darah khabbab harus tertumpah.. 

Merasa belum puas, oleh orang-orang itu, semua besi yang dipunyai khabbab, dilebur, dibentuk menjadi rantai, belenggu, serta baju besi. Lalu, dimasukkan ke dalam api hingga menyala dan merah membara, dan mereka pakaikan kepada khabbab yang masih setengah sadar. Dengan keji, mereka terlentangkan khabbab yang memakai belenggu dan baju besi panas di tengah padang pasir saat matahari panasnya sangat menyengat dan membakar, lalu dadanya ditindih batu besar.

Khabbah tetap istiqomah. Walaupun sakit luar biasa ia rasakan, ia gerakkan lidahnya untuk menyebut nama Allah.

Melihat khabbab tak goyah, mereka semakin geram. Lalu mengambil beberapa batu, membakarnya hingga merah menyala. Setelah itu, mereka letakkan bara itu dibawah baju besi yang dikenakan khabbab, hingga baju besi itu ikut membara lagi…
Khabbab menggigit bibir, panas luar biasa merajam tubuhnya, bahkan sampai punggungnya mengelupas sepenuhnya. ..

*****************

penyiksaan itu, berlangsung berhari-hari, sampai orang-orang kafir itu bosan menyiksanya. Dan akhirnya, mereka melepaskannya untuk sementara.. dengan tenaga yang tersisa, khabbab membersihkan dirinya, lalu bersama teman2 senasib yang juga disiksa oleh kaum Quraisy, menuju rumah manusia yang paling mereka cintai,.. mereka menginginkan keselamatan,, (bukankah itu sangat wajar?)

Di hadapan Rasulullah, ia mewakili teman2nya, mengadukan semua perlakuan kaum quraisy terhada mereka. Lalu ia meminta pertolongan beliau…  Rasul menatap mereka pilu, beliau sangat ingin menolong, tetapi beliau tidak ingin generasi pertamanya menjadi generasi yang cengeng dan lemah hati. Dengan sepenuh kelembutan, beliau menjawab “sesungguhya umat-umat terdahulu sebelum kalian telah mengalamai penyiksaan lebih dari apa yang kalian alami. Mereka ditanam dalam tanah. Kemudian kepalanya digergaji sampai terbelah menjadi dua bagian. Tubuh mereka juga disikat dengan sikat besi sampai terkelupas daging dari  tulangnya, tetapi mereka tetap tabah dan tidak melepaskan keyakinannya. Sesungguhnya Allah akan menyempurnakan hal itu sampai setiap pengembara yang berpergian dari Shan’a he Hadramaut tidak takut berjalan sendiri, kecuali kepada Allah..seperti takut dari serigala menerkam hewan gembalaannya. Tetapi kalian ini sungguh terburu-buru..”

Seketika para sahabat terdiam. Mereka malu, sangat menyesal karena telah bersikap lemah. Di dalam hati, mereka pun berjanji untuk terus tegar memperjuangkan keimanan mereka, sampai kapanpun…
Begitu pula khabab, dengan langkah pasti ia kembali ke rumah majikannya. Azzam itu begitu kuat mengakar, hingga bibirnya tak lepas dari dzikir kepada Allah..

Setelah sampai, ia mendapati majikannya marah karena kepergiannya. Ummu anmar kembali mengerahkan budak dan saudaranya untuk kembali menyiksa khabbab seperti sebelumnya. Tapi khabbab tegar, ia telah mempunyai semangat baru untuk menjalani semua itu.

*****************

Suatu hari, ketika orang-orang yang menyiksanya sedang pergi untuk beristirahat, khabbab melihat Rasulullah melewati jalan di dekat tempat penyiksaannya. Tertatih ia berjalan, mengejar sang kekasih hati.. tak ada luka, tak ada sakit yang terasa… hanya cinta yang menggelora… 
setelah agak dekat dengan beliau, lirih khabbab memanggil nama Rasulullah… Dan Rasul pun menoleh.. 

entah ini kali keberapa, khabbab terpesona dengan wajah mulia itu.. rontoklah semua deritanya, ia benar-benar merasakan kebahagiaan yang tak terkira..

Ummu anmar melihat khabbab bersama Rasulullah, ia marah, kebencian itu begitu dalam menguasainya. Lantas ia bergegas mengambil sepotong besi dan membakarnya sampai membara.

Di luar, khabbab masih berbincang dengan Rasulullah. 
Khabbab sungguh gembira, hingga ia tak menyadari ummu anmar yang marah besar mendekat kepadanya.. Khabbab sungguh menikmati tiap detik kebersamaannya dengan Rasulullah, hingga ia tak merasakan panasnya besi membara yang ditempelkan ummu anmar kekepalanya. 
Walaupun darah mengalir, walaupun asap mengepul dari kepalanya dikarenakan besi panas itu,,,ia tak memperdulikannya.. ia tetap tersenyum… tak ada rasa sakit yang bisa mengalahkan cintanya kepada Rasulullah..

Namun tubuhnya tak kuat lagi, dan akhirnya ia pingsan di tempat itu juga…

Rasulullah yang menyaksikan kejadian yang tidak diduga-duga itu tersentak kaget.  Beliau sungguh tak menyangka ada yang tega berbuat sekejam itu. Dengan air mata yang membasahi pipi, Beliau berdoa dengan khusyuk “Ya Allah, limpahkan pertolonganMu kepada khabbab, dan kuserahkan urusan Ummu anmar kepadaMu..”

Kehendak Allah pun berlakulah, selang beberapa hari Ummi Anmar menerima hukumannya. Ia diserang oleh semacam penyakit panas yang aneh dan mengerikan. Menurut keterangan ahli sejarah ia melolong seperti anjing. Dan untuk menurunkanrasa panas itu, seorang tabib menyarankan supaya menyetrikakan sebatang besi yang panas membara ke atas kepalanya. Hal itu dilakukan setiap kali rasa sakitnya menyerang.. Na’udzubillah min dzalik….





ASH SHIDDIQ

Ketika Rasulullah berada di hadapan,
Ku pandangi pesonanya dari kaki hingga ujung kepala
Tahukah kalian apa yang terjelma?
Cinta!

(Abu Bakar Shiddiq r.a)


Gua Tsur.

Wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar.semakin dekat, dan semakin dekat… Tak terasa tubuhnya bergetar hebat. Betapa tidak, dari celah gua ia telah mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar “Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”.
Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaan maha, Allah”.

Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki tampan yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana semesta jadinya tanpa penerang. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu.
Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya.
Ia hanya takut, Muhammad,, ya Muhammad.. mereka membunuh Muhammad.


*********************

Berdua mereka berhadapan, dan mereka sepakat untuk bergantian berjaga.
Dan keakraban mempesona itu bukan sebuah kepalsuan…
Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama…Aduhai, betapa ia mencintai putra Abdullah. Lelah yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah di depannya yang saat itu berada nyata, meleburkan penat yang ia rasa. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya. Cinta.

Sesaat kemudian, Muhammad melabuhkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar. Abu Bakar terkesiap. Tiba-tiba ia berenang dalam samudera kegembiraan yang sempurna. Tak ada yang dapat memesonakannya selama hidup kecuali saat kepala Nabi yang suci berbantalkan kedua pahanya..
Mata Rasulullah terpejam.
Dengan hati-hati, seperti seorang ibu, telapak tangan Abu Bakar, mengusap peluh di kening Rasulullah…
Masih dalam senyap, Abu Bakar terus terpesona dengan sosok cinta yang tengah beristirahat diam di pangkuannya. Sebuah asa mengalun dalam hatinya “Allah, betapa ingin hamba menikmati ini selamanya”.

Nafas harum itu terhembus satu-satu, menyapa wajah Abu Bakar yang sangat dekat. Abu Bakar tersenyum, sepenuh kalbu ia menatapnya lagi. Tak jenuh, tak bosan.
Namun, seketika wajahnya muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti memburu hewan buruan. Bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Muthalib, yang begitu santun dan amanah.
Mendung di wajah Abu bakar belum juga surut, membuat sekumtum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu semerbak. “Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan sesiapapun menganggumu, wahai kekasih…”.

Sunyi tetap terasa. Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Abu Bakar menyandarkan punggung di dinding gua. Rasulullah, masih saja mengalun dalam istirahatnya. .
Dan tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih itu.

Abu Bakar meringis, ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah beberapa lama.
Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular segera menjalar cepat. “Tidak, aku tidak akan membuat Rasulullah terbangun hanya karena aku.. tidak..” Abu Bakar menggigit bibirnya. Menahan segala sakit yang  meranjam. Ia menangis diam-diam. Rasa sakit itu benar-benar tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. ..
Kekhwatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini” suara Rasulullah memenuhi udara Gua.

“Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.

“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?”

“Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat”

Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibir manisnya bergerak “Mengapa engkau tidak menghindarinya?”

“Saya khawatir membangunkan engkau dari lelap” jawab Abu Bakar terbata. Ia sungguh sangat menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah dan membuatnya terjaga.


Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Al-Musthafa berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya..
Betapa indah sebuah ukhuwah.

Beliau tersenyum sendu “Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan”.
Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Al-Musthafa meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah pencipta semesta, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu. Nabi masih memandangnya sayang.

“Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia indah seperti mu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar kemudian.

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.



*********************


Kita pasti tahu siapa Abu Bakar. Ia adalah lelaki pertama yang memeluk Islam dan juga salah satu sahabat terdekat Rasulullah. Dari lembar sejarah, kita kenang cinta Abu Bakar kepada Al-Musthafa menyemesta. Kisah tadi terjadi pada saat ia menemani Rasulullah berhijrah menuju Madinah dan harus menginap di Gua Tsur selama tiga malam. Menemani Nabi untuk berhijrah adalah perjalanan penuh rintang. Ia sungguh tahu akibat yang akan digenggamnya jika misi ini gagal. Namun karena cinta yang berkelindan di kedalaman hatinya begitu besar, Abu Bakar dengan sepenuh jiwa, raga dan harta, menemani sang Nabi pergi.

Dia terkenal karena teguh pendirian, berhati lembut, mempunyai iman yang kokoh dan bijaksana. Kekokohan imannya terlihat ketika Madinah kelabu karena satu kabar, Nabi yang Ummi telah kembali kepada Yang Maha Tinggi. Banyak manusia terlunta dan larut dalam lara yang sempurna. Bahkan Umar murka dan tidak mempercayai kenyataan yang ada. Saat itu Abu Bakar tampil mengingatkan seluruh sahabat dan menggaungkan satu khutbah yang mahsyur “Ketahuilah, siapa yang menyembah Muhammad, maka ia telah meninggal dunia. Dan sesiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah tidak mati”.

Kepergian sang tercinta, tidak menyurutkan keimanan dalam dadanya. Ketiadaan Rasulullah, jua tak memadamkan gebyar semangat untuk terus menegakkan pilar-pilar Islam yang telah dipancangkan. Pada saat menjabat khalifah pertama, ia dengan gigih memerangi mereka yang enggan berzakat. Tidak sampai di situ munculnya beberapa orang yang mengaku sebagi nabi, sang khalifah juga berlaku sama yaitu mengirimkan pasukan untuk mengajak mereka kembali kepada kebenaran. Sesungguhnya pribadi Abu Bakar adalah lemah lembut, namun ketika kemungkaran berada dihadapannya, ia berlaku sangat tegas dalam memberantasnya.

Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun, pada saat perang atas bangsa Romawi di Yarmuk berkecamuk dengan kemenangan di tangan Muslim. Sebelum wafat, ia menetapkan Umar sebagai penggantinya. Jenazahnya dikebumikan di sebelah manusia yang paling dicintainya, yaitu makam Rasulullah. Hidup Abu Bakar berhenti sampai di sana, namun selanjutnya manusia yang menurut Rasulullah menjadi salah seorang yang dijamin masuk surga, terus saja mengharumkan sejarah sampai detik sekarang. Ia mencintai Nabinya melebihi dirinya sendiri. Tidakkah itu mempesona?